TAK PERLU AJARI KAMI BERPUASA

View previous topic View next topic Go down

TAK PERLU AJARI KAMI BERPUASA

Post by Admin on Thu Nov 01, 2007 1:59 pm

TAK
PERLU AJARI KAMI BERPUASA










Hari
ke tiga di bulan ramadhan saya berkesempatan menumpang becak menuju
rumah ibu. Sore itu, tak biasanya udara begitu segar, angin lembut
menerpa wajah dan rambutku. Namun kenikmatan itu tak berlangsung
lama, keheninganku terusik dengan suara kunyahan dari belakang,
"Abang becak ...?"

Ya, kudapati ia tengah lahapnya
menyuap potongan terakhir pisang goreng di tangannya. Sementara
tangan satunya tetap memegang kemudi. "Heeh, puasa-puasa begini
seenaknya saja dia makan ...," gumamku.

Rasa penasaranku
semakin menjadi ketika ia mengambil satu lagi pisang goreng dari
kantong plastik yang disangkutkan di dekat kemudi becaknya, dan ...
untuk kedua kalinya saya menelan ludah menyaksikan pemandangan yang
bisa dianggap tidak sopan dilakukan pada saat kebanyakan orang tengah
berpuasa.

"mmm ..., Abang muslim bukan? tanyaku
ragu-ragu.

"Ya dik, saya muslim ..." jawabnya
terengah sambil terus mengayuh

"Tapi kenapa abang tidak
puasa? abang tahu kan ini bulan ramadhan. Sebagai muslim seharusnya
abang berpuasa. Kalau pun abang tidak berpuasa, setidaknya hormatilah
orang yang berpuasa. Jadi abang jangan seenaknya saja makan di depan
banyak orang yang berpuasa ..." deras aliran kata keluar dari
mulutku layaknya orang berceramah.

Tukang becak yang kutaksir
berusia di atas empat puluh tahun itu menghentikan kunyahannya dan
membiarkan sebagian pisang goreng itu masih menyumpal mulutnya.
Sesaat kemudian ia berusaha menelannya sambil memperhatikan wajah
garangku yang sejak tadi menghadap ke arahnya.

"Dua hari
pertama puasa kemarin abang sakit dan tidak bisa narik becak. Jujur
saja dik, abang memang tidak puasa hari ini karena pisang goreng ini
makanan pertama abang sejak tiga hari ini."

Tanpa
memberikan kesempatan ku untuk memotongnya,

"Tak perlu
ajari abang berpuasa, orang-orang seperti kami sudah tak asing lagi
dengan puasa," jelas bapak tukang becak itu.

"Maksud
bapak?" mataku menerawang menunggu kalimat berikutnya.

"Dua
hari pertama puasa, orang-orang berpuasa dengan sahur dan berbuka.
Kami berpuasa tanpa sahur dan tanpa berbuka. Kebanyakan orang seperti
adik berpuasa hanya sejak subuh hingga maghrib, sedangkan kami kadang
harus tetap berpuasa hingga keesokan harinya ..."

"Jadi
...," belum sempat kuteruskan kalimatku,









"Orang-orang
berpuasa hanya di bulan ramadhan, padahal kami terus berpuasa tanpa
peduli bulan ramadhan atau bukan ..."

"Abang sejak
siang tadi bingung dik mau makan dua potong pisang goreng ini, malu
rasanya tidak berpuasa. Bukannya abang tidak menghormati orang yang
berpuasa, tapi..." kalimatnya terhenti seiring dengan tibanya
saya di tempat tujuan.

Sungguh. Saya jadi menyesal telah
menceramahinya tadi. Tidak semestinya saya bersikap demikian
kepadanya. Seharusnya saya bisa melihat lebih ke dalam, betapa ia pun
harus menanggung malu untuk makan di saat orang-orang berpuasa demi
mengganjal perut laparnya. Karena jika perutnya tak terganjal mungkin
roda becak ini pun tak kan berputar ...

Ah, kini seharusnya
saya yang harus merasa malu dengan puasa saya sendiri? Bukankah salah
satu hikmah puasa adalah kepedulian? Tapi kenapa orang-orang yang
dekat dengan saya nampaknya luput dari perhatian dan kepedulian saya?


"Wah, nggak ada kembaliannya dik..."

"hmm,
simpan saja buat sahur bapak besok ya ..."

Saya jadi
teringat seorang teman di Kelompok Kerja Sosial Melati, ia punya
motto hidup yang sederhana, "Kami Peduli". (












_________________

Admin
Admin
Admin

Male
Number of posts : 577
Age : 29
Location : In My ROomZZ
Registration date : 2007-10-28

Character sheet
games:

View user profile http://fk-unsyiah.forumotion.com

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum