Papa

View previous topic View next topic Go down

Papa

Post by Admin on Tue Oct 30, 2007 8:47 pm

Papa

oleh : Unknown Author



Usia Papa telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya masih kuat. Papa mampu

mengendarai sepeda ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk

belanja keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6 tahun lalu,

Papa sendirian di kampung. Oleh karena itu kami kakak-beradik 5 orang

bergiliran menjenguknya.



Kami semua sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari kampung halaman di

Teluk Intan. Sebagai anak sulung, saya memiliki tanggung jawab yang

lebih besar. Setiap kali saya menjenguknya, setiap kali itulah isteri

saya mengajaknya tinggal bersama kami di Kuala Lumpur.



" Nggak usah.

Lain kali saja !"

jawab Papa.



Jawaban itu yang selalu diberikan kepada kami saat mengajaknya pindah.

Kadang-kadang Papa mengalah dan mau menginap bersama kami, namun 2 hari

kemudian dia minta diantar balik. Ada-ada saja alasannya.



Suatu hari Januari lalu, Papa mau ikut saya ke Kuala Lumpur. Kebetulan

sekolah masih libur, maka anak-anak saya sering bermain dan

bersenda-gurau dengan kakek mereka. Memasuki hari ketiga, ia mulai minta

pulang. Seperti biasa, ada-ada saja alasan yang diberikannya.



" Saya sibuk, Pa.

Tak boleh ambil cuti.

Tunggulah sebentar lagi.

Akhir minggu ini saya akan antar Papa,"

balas saya.



Anak-anak saya ikut membujuk kakek mereka.



" Biarlah Papa pulang sendiri jika kamu sibuk.

Tolong belikan tiket bus saja untuk Papa,"

kata Papa yang membuat saya bertambah kesal.



Memang Papa pernah berkali-kali pulang naik bus sendirian.



" Nggak usah saja, Pa,"

bujuk saya saat makan malam.



Papa diam dan lalu masuk ke kamar bersama cucu-cucunya.

Esok paginya saat saya hendak berangkat ke kantor, Papa sekali lagi

minta saya untuk membelikannya tiket bus.



" Papa ini benar-benar nggak mau mengerti ya, Pa.

Saya sedang sibuk, sibuuukkkk !!!"

balas saya terus keluar menghidupkan mobil.



Saya tinggalkan Papa terdiam di muka pintu.

Sedih hati saya melihat mukanya.



Di dalam mobil, isteri saya lalu berkata,

" Mengapa bersikap kasar kepada Papa ?

Bicaralah baik-baik !

Kasihan khan dia !"



Saya terus membisu.

Sebelum isteri saya turun setibanya di kantor, dia berpesan agar saya

penuhi permintaan Papa.



" Jangan lupa, Ko.

Belikan tiket buat Papa,"

katanya singkat.



Di kantor saya termenung cukup lama.

Lalu saya meminta ijin untuk keluar kantor membeli tiket bus buat Papa.



Jam 11.00 pagi saya tiba di rumah dan minta Papa untuk bersiap.



" Bus berangkat pk 14.00,"

kata saya singkat.



Saya memang saat itu bersikap agak kasar karena didorong rasa marah

akibat sikap keras kepala Papa. Papa tanpa banyak bicara lalu segera

berbenah. Dia memasukkan baju-bajunya ke dalam tas dan kami berangkat.

Selama dalam perjalanan, kami tak berbicara sepatah kata pun.



Saat itu Papa tahu bahwa saya sedang marah.

Ia pun enggan menyapa saya.

Setibanya di stasiun, saya lalu mengantarnya ke bus.

Setelah itu saya pamit dan terus turun dari bus.



Papa tidak mau melihat saya, matanya memandang keluar jendela. Setelah

bus berangkat, saya lalu kembali ke mobil. Saat melewati halaman

stasiun, saya melihat tumpukan kue pisang di atas meja dagangan dekat

stasiun.



Langkah saya lalu terhenti dan teringat Papa yang sangat menyukai kue

itu. Setiap kali ia pulang ke kampung, ia selalu minta dibelikan kue

itu. Tapi hari itu Papa tidak minta apa pun.



Saya lalu segera pulang.

Tiba di rumah, perasaan menjadi tak menentu.

Ingat pekerjaan di kantor, ingat Papa yang sedang dalam perjalanan,

ingat isteri saya yang sedang berada di kantornya.



Malam itu sekali lagi saya mempertahankan ego saya, saat isteri meminta

saya menelpon Papa di kampung, seperti yang biasa saya lakukan setiap

kali Papa pulang dengan bus. Malam berikutnya, isteri bertanya lagi

apakah Papa sudah saya hubungi.



" Nggak mungkin belum tiba,"

jawab saya sambil meninggikan suara.



Dini hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit Teluk Intan.



" Papa kamu sudah tiada,"

kata sepupu saya di sana.

" Beliau meninggal 5 menit yang lalu setelah mengalami sesak nafas sore

tadi."



Sepupu saya lalu meminta saya agar segera pulang.

Saya lalu jatuh terduduk di lantai dengan gagang telepon masih di

tangan.



Isteri lalu segera datang dan bertanya,

"Ada apa, Ko ?"



Saya hanya menggeleng-geleng dan setelah agak lama baru bisa berkata, "

Papa sudah tiada !!"



Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya menangis.

Barulah saat itu saya sadar betapa berharganya seorang Papa dalam hidup

ini. Kue pisang, kata-kata saya kepada Papa, sikapnya sewaktu di rumah,

kata-kata isteri mengenai Papa, silih berganti menyerbu pikiran.



Saya sangat merasa kehilangan Papa yang pernah menjadi tempat saya

mencurahkan perasaan, seorang teman yang sangat pengertian dan Papa yang

sangat mengerti akan anak-anaknya. Mengapa saya tidak dapat merasakan

perasaan seorang tua yang merindukan belaian kasih sayang anak-anaknya

sebelum meninggalkannya buat selama-lamanya.



Sekarang 5 tahun telah berlalu.

Setiap kali pulang ke kampung, hati saya bagai terobek-robek saat

memandang nisan di atas pusara Papa. Saya tidak dapat menahan air mata

jika teringat semua peristiwa pada saat-saat akhir saya bersamanya. Saya

merasa sangat bersalah dan tidak dapat memaafkan diri ini.



Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya sewaktu Papa dan Mama

masih hidup. Jika sudah tiada, menangis airmata darah sekalipun tidak

berarti lagi.



Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua, jagalah perasaan mereka.

Kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat kita sewaktu kecil dulu.





******************************************************************

Do not believe in anything simply because you have heard it ; Do not

believe in anything by mere traditions just because they have been

handed down for many generations ; Do not believe in anything only

because it is spoken and/or rumored by many ; Do not believe in anything

just because it is written in your religious books ; Do not believe in

anything merely on the authority of your elders and teachers ; But after

observation and analysis, when you find that anything agrees with reason

and is conducive to the good and the benefit of one and all, then accept

it and live up to it

_________________

Admin
Admin
Admin

Male
Number of posts : 577
Age : 29
Location : In My ROomZZ
Registration date : 2007-10-28

Character sheet
games:

View user profile http://fk-unsyiah.forumotion.com

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum