LELAKI YANG SELALU BERBAGI

View previous topic View next topic Go down

LELAKI YANG SELALU BERBAGI

Post by Admin on Thu Nov 01, 2007 1:57 pm

LELAKI YANG
SELALU BERBAGI








Temannya menulis:


Ia
seorang lelaki yang sangat baik, istrinya pun sangat baik. Setiap
bulan kami gajian, ia menghitung-hitung uang di rekening tabungannya.
Lalu mulailah membagi seperti ini: sekian rupiah untuk istri dan
rumah tangga, sekian rupiah untuk ibu yang sudah janda, sekian rupiah
untuk biaya kuliah adik kembarnya,. Lalu dia berhenti menghitung dan
masih ada sisa uang yang tak dihitungnya. Saya heran dan saya tanya,
kenapa sisa itu tak dihitungnya. Dia bilang itu bukan uangya. Itu hak
orang lain. Saya bertanya padanya : apakah selalu begitu caramu
menghitung uang? Dia menjawab “ya.” Bukan saya tak tahu kalau
dalam rizki ada bagian dan hak orang lain. Tapi baru kali ini saya
melihat ada orang yang memang membaginya sejak awal dalam jumlah yang
dianggarkan, bukan sekedar mengeluarkannya berapa saja atau
sekadarnya ketika bertemu pengemis di jalan, menyumbang ke mesjid,
dll. Dia selalu memilih kata: “itu bukan uang saya.” Saya
lihat, amplop untuk orang lain sama tebalnya dengan amplop untuk
biaya rumah tangganya. Saya tanya: yang jadi hak orang lain itu
terdiri dari apa saja? Dia jawab: sekian rupiah untuk teman saya yang
sedang kuliah, sekian rupiah untuk beberapa anak yatim dan sekian
rupiah untuk jaga-jaga kalau ada orang lain yang butuh bantuan.







Lelaki
yang diceritakan oleh seorang teman di atas, juga menjadi teman saya.
Dia bekerja di sebuah perusahaan tembaga emas. Dari cerita-cerita
lelaki itu pada saya, saya bisa bisa menyimpulkan bahwa dia memang
begitu sangat peduli terhadap orang-orang di sekiarnya, terutama
orang yang tidak mampu. Dia punya banyak anak katanya. Ada kali
belasan anak yang dia punya.
Saya
heran, umur dia cuma beberapa tahun lebih tua dari saya. Kalau lelaki
itu cepet menikah dan punya banyak anak, tentulah tak sampai belasan
jumlahnya. Anak-anak yang dia maksud itu memang bukan anak
kandungnya, melainkan anak angkat yang dia biayai sekolah bahkan
sampai mereka kuliah. Selain itu dia juga dia punya teman yang
mengelolan panti asuhan yang saya yakin sumber dana panti asuhan
tersebut juga berasal dari lelaki itu.







Saya pernah berkata
padanya; “Mas, saya sangat jarang menjumpai orang seperti dirimu.
Saya heran.”








Pada saya dia bercerita
begini:




Sister
Eqi, dulu keluarga saya sangat miskin. Aku pernah satu hari tidak
makan karena tidak ada yang dimakan. Suatu hari, orang tua saya
pulang dengan tangan kosong. Tanpa membawa uang sepeserpun setelah
lelah seharian mencari. Esoknya, mereka kembali menyambut hari dengan
satu harapan semoga mereka menemuan uang. Dan aku ditinggalkan
bersama adik-adikku tanpa ada sesuatu pun yang dapat dimakan.
Kemudian aku gorengkan adikku sisa nasi kemarin yang telah
dikeringkan dengan goreng sangrai tanpa minyak. Beberapa waktu
kemudian, adikku menyerah pada nasib. Mereka meninggal karena
kekurangan gizi pada hari yang bersamaan.
Aku
bersekolah atas belasan kasihan saudara-saudaraku yang juga sama
miskinnya. Waktu SMP ayahku meninggal. Aku melanjutkan SMA dan kuliah
dari dengan beasiswa. Aku tak pernah membayar sedikitpun karena
nilaiku yang memuaskan. Selesai kuliah, aku diterima bekerja di
sebuah perusahaan tambang terkemuka dengan gajinya yang lumayan.
Sekarang aku bisa membiayai ibuku, menyekolahkan adik-adikku dan
sedikit-sedikit membayar kasih sayang dari orang-orang yang
menyayangiku. Aku tidak membayar tunai kepada mereka. Tapi aku
membayar hutangku kepada orang-orang yang tidak mampu. Aku sangat
paham, alangkah sakitnya menjadi orang yang tidak mapu dan alangkah
manisnya bantuan uluran dari orang-orang yang peduli. Inilah hutangku
yang harus aku bayar. Hutang terima kasih, hutang budi sampai dibawa
mati. Maka Sister Eqi, aku ingin kau tularkan kasih sayangmu kepada
sesama.”






Airmata saya menitik.
Saya menangis sejadi-jadinya dengan cerita lelaki itu. Untuk satu hal
yang membuat saya terlalu sombong: sudah pedulikah saya
terhadap orang lain selain diri saya? Sungguh, saya merasa tidak ada
apa-apanya.







Saya
pernah membaca entah dimana yang intinya begini:
kita
tidak akan pernah merasakan manisnya manis kalau tidak pernah
merasakan pahitnya pahit.

Dan lelaki itu, saya kira telah merasakan pahit yang begitu pahit
dalam hidupnya.







Melalui
lelaki itu pula, saya sering minta tausiah kala saya merasa sedang
futur. Dia dengan senang hati akan mengabulkannya. Bukan hanya
tausiah agama. Terkadang dia mengirim beberapa kisah bijak dan puisi
yang sampai saat ini masih tersimpan dengan manisnya di
inbox
email

saya.*

_________________

Admin
Admin
Admin

Male
Number of posts : 577
Age : 29
Location : In My ROomZZ
Registration date : 2007-10-28

Character sheet
games:

View user profile http://fk-unsyiah.forumotion.com

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum