Kisah Pohon Apel

View previous topic View next topic Go down

Kisah Pohon Apel

Post by Admin on Thu Nov 01, 2007 1:56 pm

Kisah
Pohon Apel










Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar
dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu
setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan
buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki
itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat
mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu.

Anak lelaki itu
kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel
itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya
tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,"
pinta pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang bermain-main
dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin
sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang
untuk
membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh,
maaf aku pun tak punya uang, tetapi kau boleh mengambil semua buah
apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan
kegemaranmu. "Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik
semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu
kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon
apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku
lagi, "kata pohon apel. "Aku tak punya waktu," jawab
anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami
membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"
"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang
semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel
itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia
melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah
kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih lagi.

Pada
suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa
sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi
denganku," kata pohon apel.
"Aku sedih," kata anak
lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin
pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal
untuk pesiar?" "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau
boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal
yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah. "Kemudian,
anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang
diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang
menemui pohon apel itu.


Akhirnya, anak lelaki itu datang
lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata
pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah
apel lagi
untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk

mengigit buah apelmu, "jawab anak lelaki itu. "Aku juga
tak memiliki
batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata
pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,"
jawab anak lelaki itu. "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa
lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku
yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil
menitikkan air mata. "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,"
kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk
beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah
tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah
berbaring dipelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.
"Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon
apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan
air
matanya.


Ini adalah cerita tentang kita semua.


Pohon
apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang
bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita
meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu
atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan
selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan
untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki
itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah
cara kita memperlakukan orang tua kita. Sebarkan cerita ini untuk
mencerahkan lebih banyak rekan. Dan, yang terpenting: cintailah orang
tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita
mencintainya, dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan
akan diberikannya pada
kita.

_________________

Admin
Admin
Admin

Male
Number of posts : 577
Age : 29
Location : In My ROomZZ
Registration date : 2007-10-28

Character sheet
games:

View user profile http://fk-unsyiah.forumotion.com

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum