Menembak" 1 Sel Telur dengan 1 Sperma

View previous topic View next topic Go down

Menembak" 1 Sel Telur dengan 1 Sperma

Post by Admin on Tue Oct 30, 2007 8:43 pm







Teknologi reproduksi kini telah menembus berbagai
metode canggih untuk menolong pasangan yang kesulitan mendapatkan keturunan.
Gebrakan pertama terjadi saat metode "bayi tabung" pertama
melahirkan Louise Brown asal Inggris pada 1978. Setelah itu, banyak teknik
lain yang lebih mengagumkan berturut-turut ditemukan, termasuk metode
penyuntikan satu sperma terhadap satu sel telur secara in vitro.

[center]



Setelah menunggu delapan tahun, akhirnya Rina (nama samaran)
berhasil melahirkan seorang bayi mungil berkat bantuan teknologi rekayasa
reproduksi in vitro atau lebih populer disebut "bayi tabung".


Ia bahagia sekali saat
diberi tahu dirinya berhasil mengandung. Semula suaminya sempat putus asa
karena hasil laboratorium menunjukkan, pada cairan maninya tidak ditemukan
sperma. Namun, berkat kecanggihan teknologi reproduksi, pasangan ini berhasil
menimang bayi laki-laki sehat melalui penyuntikan sel mani suami ke sel telur
istrinya secara in vitro.


Seorang wanita Inggris
bahkan mengalami kasus yang lebih unik. Suaminya dinyatakan menderita kanker
pada testisnya dan organ ini harus dibuang. Padahal, keduanya sangat ingin
mendapatkan keturunan. Betapa cemasnya mereka, sebab lima tahun sebelumnya,
testis yang satu sudah dibuang karena penyakit yang sama. Karena tak sempat
mengekstraksi sperma menjelang operasi kedua, maka testis yang sudah dipotong
segera dikirim ke klinik pelayanan fertilitas di Aldridge untuk diambil
spermanya dan dibekukan.


Berkat teknik yang sama,
akhir Juni lalu wanita itu dikabarkan berhasil mengandung. Calon bayinya
bahkan diduga kembar. Kebahagiaan bertambah ketika suaminya dinyatakan sembuh
dari kanker.


Dengan semakin meningkatnya
jumlah pasangan tidak subur pada 30 tahun terakhir, khususnya di
negara-negara industri, para ahli di negara-negara seperti Amerika, Inggris,
dan Australia, terus mencari teknik yang dapat membantu pasangan tak subur.
Jumlah kasus pasangan tak subur diperkirakan sekitar 15% di dunia maupun di
Indonesia.


Penyebab infertilitas
bermacam-macam, bisa akibat tersumbatnya saluran sel telur pada istri (35%),
masalah antibodi, lendir mulut rahim tidak normal, endometriosis, problem
sperma suami, dll.


20 tahun teknik bayi tabung

Teknik bayi tabung sempat mencatat keberhasilan luar biasa dan menggemparkan
dunia. Metode yang diprakarsai sejumlah dokter Inggris ini berhasil
menghadirkan bayi perempuan bernama Louise Brown pada 1978. Sebelum itu,
untuk menolong pasangan suami-istri tak subur digunakan teknik inseminasi buatan,
yakni penyemprotan sejumlah cairan semen suami ke dalam rahim dengan bantuan
alat suntik. Dengan cara ini diharapkan sperma lebih mudah bertemu dengan sel
telur. Sayang, tingkat keberhasilannya hanya 15%.


Pada teknik in vitro yang
melahirkan Brown, pertama-tama dilakukan perangsangan indung telur sang istri
dengan obat khusus untuk menumbuhkan lebih dari satu sel telur. Perangsangan
berlangsung 5 - 6 minggu sampai sel telur dianggap cukup matang dan sudah
saatnya "dipanen". Selanjutnya, folikel atau gelembung sel telur
diambil tanpa operasi, melainkan dengan tuntunan alat ultrasonografi
transvaginal (melalui vagina).


Sementara semua sel telur
yang berhasil diangkat dieramkan dalam inkubator, air mani suami dikeluarkan
dengan cara masturbasi, dibersihkan, kemudian diambil sekitar 50.000 -
100.000 sperma. Sperma itu ditebarkan di sekitar sel telur dalam sebuah wadah
khusus. Sel telur yang terbuahi normal, ditandai dengan adanya dua sel inti,
segera membelah menjadi embrio. Sampai dengan hari ketiga, maksimal empat
embrio yang sudah berkembang ditanamkan ke rahim istri. Dua minggu kemudian
dilakukan pemeriksaan hormon Beta-HCG dan urine untuk meyakinkan bahwa
kehamilan memang terjadi.


Sejak kelahiran Louise
Brown, teknik bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF) semakin populer
saja di dunia. Di Indonesia, IVF pertama kali diterapkan di Rumah Sakit
Anak-Ibu (RSAB) Harapan Kita, Jakarta, pada 1987. Teknik yang kini disebut
IVF konvensional itu berhasil melahirkan bayi tabung pertama, Nugroho
Karyanto, pada 2 Mei 1988. Setelah itu lahir sekitar 300 "adik"
Nugroho, di antaranya dua kelahiran kembar empat.


Semakin canggih saja

Sukses besar teknik IVF konvensional ternyata masih belum memuaskan dunia
kedokteran, apalagi kalau mutu dan jumlah sperma yang hendak digunakan
kurang. Maka dikembangkanlah teknik lain seperti PZD (Partial Zona
Dessection) dan SUZI (Subzonal Sperm Intersection). Pada teknik PZD, sperma
disemprotkan ke sel telur setelah dinding sel telur dibuat celah untuk
mempermudah kontak sperma dengan sel telur. Sedangkan pada SUZI sperma
disuntikkan langsung ke dalam sel telur. Namun, teknik pembuahan
mikromanipulasi di luar tubuh ini pun masih dianggap kurang memuaskan
hasilnya.


Sekitar lima tahun lalu
Belgia membuat gebrakan lain yang disebut ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm
Injection). Teknik canggih ini ternyata sangat tepat diterapkan pada kasus
mutu dan jumlah sperma yang minim. Kalau pada IVF konvensional diperlukan
50.000 - 100.000 sperma untuk membuahi sel telur, pada ICSI hanya dibutuhkan
satu sperma dengan kualitas nomor wahid. Melalui pipet khusus, sperma
disuntikkan ke dalam satu sel telur yang juga dinilai bagus. Langkah
selanjutnya mengikuti cara IVF konvensional. Pada teknik ini jumlah embrio
yang ditanamkan cuma 1 - 3 embrio. Setelah embrio berhasil ditanamkan dalam
rahim, si calon ibu tinggal di rumah sakit selama satu malam.


Di Indonesia, menurut dr.
Subyanto DSOG dan dr. Muchsin Jaffar DSPK, tim unit infertilitas MELATI-RSAB
Harapan Kita, ICSI sudah diterapkan sejak 1995 dan berhasil melahirkan anak
yang pertama pada Mei 1996. Dengan teknik ini keberhasilan bayi tabung
meningkat menjadi 30 - 40%, terutama pada pasangan usia subur.


Berdasarkan pengalaman,
menurut dr. Muchsin, peluang terjadinya embrio pada teknologi bayi tabung
sekitar 90%, di antaranya 30 - 40% berhasil hamil. Namun, dari jumlah itu, 20
- 25% mengalami keguguran. Sedangkan wanita usia 40-an yang berhasil
melahirkan dengan teknik in vitro hanya 6%. Karena rendahnya tingkat
keberhasilan dan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan pasien, teknik ini
tidak dianjurkan untuk wanita berusia 40-an.


Pasangan yang masuk program
MELATI tidak harus mengikuti program IVF. Teknik ini hanya ditawarkan kalau
setelah diusahakan dengan cara lain, tidak berhasil. Sebelum mengikuti
program ini pun pasutri diminta mengikuti ceramah dan menerima penjelasan
semua prosedurnya agar diikuti dengan mantap.


Biaya mengikuti program IVF
memang tidak murah. Pada akhir 1980-an biayanya sekitar Rp 5 juta. Kini,
berkisar antara Rp 13,5 juta - Rp 18 juta. Harga obat suntik perangsang
indung telur saja sudah naik hampir empat kali lipat. Padahal, suntikan yang
dibutuhkan selama dua minggu mencapai 45 ampul.


Selain RSAB Harapan Kita,
Jakarta, teknik IVF juga sudah diterapkan di FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo
(Jakarta), Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Surabaya), dan Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan RS Dr. Sardjito (Yogyakarta).


Kalau sperma kosong

Pada kasus cairan air mani tanpa sperma (azoospermia), mungkin akibat
penyumbatan atau gangguan saluran sperma, kini bisa dilakukan pengambilan
sperma dengan teknik operasi langsung pada saluran air mani atau testis.
Tekniknya ada dua, MESA (Microsurgical Sperm Aspiration) dan TESE (Testicular
Sperm Extraction). Pada MESA, sperma diambil dari tempat sperma dimatangkan
dan disimpan (epididimis). Sedangkan pada TESE, sperma langsung diambil dari
testis yang merupakan pabrik sperma. Setelah sperma diambil, dipilih yang
paling baik. Selanjutnya, dilakukan langkah-langkah menurut prosedur ICSI.
Teknik ini juga sudah diterapkan di RSAB Harapan Kita sejak 1996 dan telah
berhasil melahirkan dua anak.


Seperti di negara lain,
sejak 1992 Indonesia sudah melakukan simpan beku embrio. Perangsangan indung
telur wanita pada prosedur bayi tabung memungkinkan terbentuknya banyak
embrio. Tidak mungkin semua embrio ditransfer ke dalam rahim pada saat
bersamaan. Embrio yang untuk sementara tidak digunakan dapat disimpan dengan
cara kriopreservasi, yang selanjutnya disimpan dalam tabung berisi cairan
nitrogen pada suhu 196oC di bawah nol derajat. Kapasitas tabung sekitar 100
embrio.


Simpan beku embrio ini
menghemat biaya karena pasangan tidak perlu lagi mengulang proses pengerjaan
dari awal lagi bila embrio berikutnya perlu ditanamkan kembali. Tidak seperti
di Barat, embrio ataupun sperma yang tersimpan beku di Indonesia hanya
diperuntukkan bagi pasutri yang bersangkutan.


Salah satu contoh
keberhasilan teknik penyimpanan embrio bisa ditemukan di Belgia. Baru-baru
ini lahir seorang bayi laki-laki sehat hasil penanaman embrio yang sudah
dibekukan selama 7,5 tahun dari pasangan lain (anonim). Bayi yang dibantu
kelahirannya oleh dr. Michael Vermesh ini beratnya 4 kg. Daya tahan embrio
yang dibekukan bisa puluhan tahun dan tetap bisa menjadi bayi sehat.


Teknologi reproduksi in vitro
ternyata sangat membantu pasangan yang mengalami gangguan reproduksi.
Mengupayakan pasutri agar bisa mempunyai anak sungguh merupakan perbuatan
mulia dan membahagiakan, sekalipun pembuahannya dilakukan di laboratorium.
Seperti halnya Louise Brown, mungkin banyak anak yang dilahirkan melalui
teknik ini ikut bersyukur bahwa kedua orang tuanya mengikuti program itu. (Nanny
Selamihardja
)



Top of Form




Bulan Oktober 1998
Potret: Garin Nugroho
Maya: Hipnosis
Terapi: TBC
Kriminal: Joki Berulah
Halhi: Lambung Sapi
Lang2: Angin Sumba
Balita Sehat
Wanita Hamil vs Anemia
Pita Venus
Terawang: BK
Tembak Sperma


}



Bottom of Form
















[/center]

_________________

Admin
Admin
Admin

Male
Number of posts : 577
Age : 29
Location : In My ROomZZ
Registration date : 2007-10-28

Character sheet
games:

View user profile http://fk-unsyiah.forumotion.com

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum