Apple for an Angel

View previous topic View next topic Go down

Apple for an Angel

Post by Admin on Tue Oct 30, 2007 8:36 pm

"Pada
berbagai tahap kehidupan kita, tanda-tanda cinta yang kita temui itu beragam:
ketergantungan, daya tarik, kepuasan, kecemasan, kesetiaan, kesedihan, tetapi
di dalam hati, sumbernya selalu sama. Manusia mempunyai sedikit sekali
kemampuan untuk saling berhubungan dengan sesamanya, mensyukuri apa
adanya."
.


- Dia
berjalan dengan mata menatap ke bawah, kepala tertunduk. Ketika dia melihatku,
dia bicara, dan aku menangkap pandangannya. Dia lusuh dan kumal, tak ada cahaya
di matanya. Dia berkata, "Assalaamu 'Alaykum." Begitu sopannya dia.



Dengan
lembut aku menjawab salamnya, "Wa 'Alaykum salaam." Aku terus
berjalan dalam kesunyian, pemuda ini -yang tak kuketahui siapa namanya- telah
membawa hatiku pergi jauh, entah ke mana.



Aku
menatap pada kedua matanya, mengamati sebuah harapan yang pernah sirna, kataku
dalam hati, "Bagaimanakah perasaan ibu yang melahirkannya? Bagaimanakah
perasaan ibu yang telah menyaksikan putranya tumbuh seperti ini?". Beberapa
waktu kemudian kudapati jawaban itu tak akan pernah ada, ibunya telah meninggal
-tidak beberapa lama setelah ia lahir. Rupanya ia seorang piatu!



Kemudian,
aku selalu dikejutkannya pada hari-hari yang lain, dengan salamnya yang tulus
dan dengan ekspresi wajahnya yang malu-malu. Ketika sengaja menatap ke dalam
kedua bola matanya kali ini, aku kembali dikejutkan dengan binar mata yang
sekarang hadir. Aku bersyukur, Semoga saja itu memang karena aku tidak
mengabaikannya meski hanya dengan sebuah senyuman.



Aku
ingat ketika aku pertama kali mengamatinya dengan teliti. Pikiranku mengembara
entah ke mana. Antara terharu, iba dan rasa kasihan yang tak terkira. Kupikir
sudah seharusnya ada sisa-sisa penghargaan pada seorang anak yang terlahir
sebagai seorang manusia dengan kerusakan mental yang parah. Tidak hanya itu, ia
juga memiliki mata yang jauh lebih besar dari ukuran normal, tanpa naungan alis
yang enggan tumbuh di atasnya. Kulitnya kasar dan bersisik, rambutnya merah
seperti rambut jagung, giginya besar-besar, hitam, jarang-jarang dan terlalu
maju ke depan pada rahang atas. Hal itu membuatnya tampak seperti menyeringai
jika tersenyum. Hal itu akan membuat anak-anak kecil akan berlari-lari dan
mengolok-oloknya dari jauh.



"Assalaamu
'Alaykum wa RohmatuLlaahi wa Barokaatuh." Suatu hari ia mengucapkan salam
dengan sempurna begitu aku lewat. Seingatku Ini pertama kali ia mengucapkan
salam dengan lengkap. Aku baru sadar ia sangat bahagia hanya karena aku selalu
menjawab salamnya. Maka pagi itu, aku ikut-ikutan menjawab salam tanpa
kusingkat sedikitpun. Sejujurnya jawaban salamku hanya sebetik rasa kasihan.
Mengapa Allah menciptakan makhluk yang jauh dari sempurna seperti ini, tanyaku
dalam hati. Biarlah, Allah Maha Tahu. Tapi ya Allah, betapa pilu ketika aku melihat
ia juga mengucapkan salam pada setiap orang, tapi tak seorangpun yang
menanggapinya.



Rupanya
ini alasannya. Rupanya ini yang membuatnya bahagia jika bertemu denganku.
Sebuah pengakuan. Pengakuan sebagai manusia meskipun jauh dari kesempurnaan
fisik dan mental yang seharusnya dimiliki.



Ini
memang sangat menyedihkan. Aku menyelami perasaannya, tapi aku juga tahu
mengapa orang-orang yang lewat mengacuhkannya. Apakah perlu menjawab seorang
pemuda cacat mental dengan kedewasaan seperti anak-anak yang bahkan belum
pantas terdaftar pada sekolah dasar? Mungkin itu pikiran kebanyakan orang. Tapi
aku tidak.



Aku
berusaha menjawab salamnya, selalu dan sebisaku. Belakangan ini ia justru
menyadarkanku tentang hakikat salam yang seharusnya. Jika ia mengucapkan salam padaku
lebih dulu, aku menjawabnya dengan lengkap dan tanpa sadar membuatku berpikir.
Berpikir tentang makna salam itu sendiri. "Wa 'Alaykum Salaam wa
RohmatuLlaah wa Barokaatuh" -Dan salam kesejahteraan juga bagimu dengan
Rahmat Allah dan Barokah Allah, doaku dalam hati. sepanjang hidupku, telah
banyak kulakukan perbuatan tercela pada orang lain. Aku sadar mengapa salam
menjadi hak seorang muslim atas saudaranya. Barangkali doa dalam salam itu
berfungsi untuk menghapuskan dosa-dosa yang ada. Ia adalah kebaikan yang mudah
diberikan kepada saudara-saudara kita. Sebuah doa, bukan semata-mata ungkapan
formalitas tanpa makna.



Rupanya
aku baru menyadari mengapa Allah menciptakan pemuda cacat ini, kehadirannya
bukan tidak berguna seperti dugaanku. Tapi menyadarkan orang-orang sepertiku
tentang arti bersyukur pada nikmat Allah yang mudah terlihat tapi sukar di
lihat. Nikmat kesempurnaan fisik, kesehatan mental, dan kenikmatan iman.



Terima
kasih Jo, kataku dalam hati. Jo adalah nama pemuda itu. Akhirnya aku tahu ia
tinggal di sebuah kamar petak tidak jauh dari kost-kostanku. Ia rajin pergi ke
masjid sebelah rumah kostku, belajar mengaji bersama anak-anak kecil dengan
usia minimal 10 tahun di bawah usianya. Aku diberi tahu anak-anak itu -yang tak
lain adalah murid-murid ngajiku dulu. Mereka mengatakan bahwa Jo tidak pernah
naik dari Iqro 4. Meski begitu ia rajin sekali hadir. Aku sendiri belum pernah
melihatnya sewaktu mengajar, atau karena aku tidak memperhatikan saja?
Entahlah, kesibukan kuliahku di tingkat akhir membuatku jarang lagi mengajar
anak-anak kecil itu. Semoga Allah mengampuniku atas amanah yang telah
kulalaikan.



Suatu
hari aku terkejut mendapati Jo berdiri di depan pintu rumah kostku. Gayanya
malu-malu, kemudian ia mengucap salam seperti biasa. Aku baru saja selesai
membenahi semua barang-barangku dan mengepaknya dalam beberapa kardus besar.
Hari ini aku pindah kost.



"Teteh
mau pindah?" ia bertanya. Aku menjawab dengan sebuah anggukan. Dalam
sekejab tatapan matanya menjadi sayu, seolah-olah sangat sedih mendengar berita
itu. Hatiku trenyuh.



"Teteh
..." ia berkata lagi. Dikeluarkannya sebutir apel lusuh dari balik kantong
bajunya yang kumal. Apel besar berwarna hijau masih lengkap dengan tempelan
merk Switzerland. Itu apel yang hanya bisa di dapat di departmen store,
pikirku. Sungguh, Aku tidak bisa menduga maksud ia menunjukkan apel itu padaku.



"Saya
memecah celengan ayam saya buat beli apel ini, ini buat teteh." Dia
berkata. Diangsurkannya apel itu padaku. Oh, Aku bertanya-tanya dalam hati
"Apakah ini tidak salah?"



Meski
begitu, kuterima saja apel itu dengan tatapan penuh tanya, ia hanya tersipu
malu lalu berkata pelan-pelan, "Ustadz bilang, di surga ada banyak
bidadari yang baik. Bidadari itu juga hanya makan makanan yang baik-baik di
surga, di sana banyak buah-buahan..."



Aku
menatapnya lebih dalam. Berusaha mencari makna dibalik kata-kata yang belum
kupahami.



"Kata
ustadz lagi, bidadari surga itu juga ada di dunia dalam bentuk wanita
sholihah.." di sini kalimatnya berhenti, ia tersenyum malu-malu dan
menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu melanjutkan "kata ustadz juga,
wanita sholihah itu salah satu cirinya baik hati dan berjilbab rapih seperti
teteh ..."



Aku
terharu mendengar penjelasannya yang sederhana namun sarat makna. Tanpa sadar
meremas-remas ujung jilbabku, kuingat Nabi Muhammad SAW bersabda : "Jangan
anggap remeh suatu perbuatan baik, bahkan jikapun kamu bertemu saudaramu dengan
muka tersenyum (karena itu adalah perbuatan yang berat timbangan
kebaikannya)."



Kemudian,
sewaktu aku menatap kembali ke dalam bola matanya, aku tahu bahwa karena pemuda
buruk rupa yang cacat mental ini, aku tidak hanya telah diajak ke dalam dunia
perenungan dan kesunyian yang aneh -aku telah diberi kesempatan untuk
menghargai orang secara terbuka untuk pertama kalinya dan untuk 'mengenang
hal-hal yang baik dalam diri orang lain', sekecil apapun itu. Setelah hari itu,
tampaknya jauh lebih mudah untuk memuji dan meluhurkan Allah atas semua yang
kuterima dalam hidupku yang 'benar, mulia, dan adil' -termasuk sebutir apel
dari seorang pemuda cacat mental seperti Jo. Mungkin baginya hadiah terbesar
yang bisa dipersembahkannya kepadaku adalah apel itu.



Bukan
masalah soal harganya, namun nilai makna yang terkandung dalam apel itu
membuatku terharu. Pikirannya memang sangat sederhana, tapi itu justru
membuatnya mudah menyerap nilai-nilai kebaikan yang diberikan orang kepadanya.
Dengan seulas senyum saja, ia telah memberiku predikat seseorang yang
baik-hati. Dengan hanya menjawab salamnya saja ia telah mensejajarkanku dengan bidadari
surga! Aku sungguh terharu!



Tak
akan kulupa dia, saat dia mengiringi kepindahanku dengan tatapan matanya,
karena dia telah memberiku sesuatu yang tak akan pernah bisa kubayar. Dia
berikan padaku kesempatan untuk memberi yang kumampu, kesempatan untuk
menunjukkan cinta pada mereka yang tersingkir --kesempatan untuk sekedar
tersenyum dan menjawab salam ketika tak seorang pun bersedia -- kesempatan
untuk menjadi manusia istimewa, kesempatan untuk melakukan kebaikan.



Aku
akan selalu berterima kasih pada pemuda cacat mental itu karena menunjukkan
padaku cinta dalam seuntai doa, untuk memberiku kesempatan menjadi seseorang
yang memiliki kepekaan hati lebih banyak, untuk memberiku kesempatan menjawab
ketukannya di pintu kalbuku.



Kau
tahu, aku bukanlah bidadari, meski aku ingin sekali menjadi salah satunya. Aku
telah melukai banyak orang dengan menjadi diriku, dan orang ini, orang yang
cacat ini, yang tidak mengabaikan diriku, untuk sejenak melepaskan seorang
bidadari untuk terbang bebas.

_________________

Admin
Admin
Admin

Male
Number of posts : 577
Age : 29
Location : In My ROomZZ
Registration date : 2007-10-28

Character sheet
games:

View user profile http://fk-unsyiah.forumotion.com

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum