Kisah Pohon Apel

View previous topic View next topic Go down

Kisah Pohon Apel

Post by Admin on Tue Oct 30, 2007 8:33 pm

Kisah Pohon Apel








Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak
lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang
memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan
rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian
pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu.



Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan
pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya
tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon
apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab
anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya
uang untuk

membelinya."



Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang, tetapi kau
boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang
untuk membeli mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu
memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali
sedih.



Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya
datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel. "Aku
tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk
keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau
menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh
menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan
pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki
itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa
kesepian dan sedih lagi.



Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat
bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi denganku," kata
pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin
hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku
sebuah kapal untuk pesiar?" "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau
boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau
mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah. "Kemudian, anak lelaki itu
memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu
pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.





Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
"Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah


apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk

mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki

batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel. "Sekarang,
aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu. "Aku
benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang
tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon
apel itu sambil menitikkan air mata. "Aku tak memerlukan apa-apa lagi
sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk
beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat
terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring dipelukan
akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang. "Anak lelaki itu berbaring
di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil
meneteskan air

matanya.





Ini adalah cerita tentang kita semua.




Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang
bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita
meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam
kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa
yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir
bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi
begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita. Sebarkan cerita ini untuk
mencerahkan lebih banyak rekan. Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya, dan berterima
kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada

kita.

Admin
Admin
Admin

Male
Number of posts : 577
Age : 29
Location : In My ROomZZ
Registration date : 2007-10-28

Character sheet
games:

View user profile http://fk-unsyiah.forumotion.com

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum