Cinta tidak pernah menyerah..

Go down

Cinta tidak pernah menyerah..

Post by Admin on Tue Oct 30, 2007 8:04 pm

Cinta Tak Pernah Menyerah











Saya sedang
iseng. Iseng menonton video klip
sebuah lagu soundtrack


film ABG, My
MVP Valentine. Well, dari judulnya sudah tahu betapa


ABG-nya lagu dan film itu.
Masa-masa yang sudah lewat..saya pikir. Masa


ABG penuh dengan
cinta monyet yang konyol. Tapi
entah mengapa


Saya menontonnya, dan memutarnya lagi dan
lagi. [Ups..don' t tell


me it's because I am
feeling blue..]








Tiba-tiba saya melihat seperti sepercik keindahan yang
dimiliki masa


lalu, tapi hilang setelah kita menjadi dewasa. Anak ABG
penuh dengan


gejolak dan gelora. Banyak
salahnya, kata kita setelah kita menjadi


dewasa. Mungkin
betul. Tapi juga mungkin tidak
semuanya salah dan


jelek. Saya melihat
sekelebatan dari film
itu, cewek yang setia


menunggu cowoknya walaupun
ditinggalkan. Cowok yang mencintai seorang


cewek dengan tulus
walaupun tahu tak bisa bersama. [Ok..ok..I know it's


only a movie..I know..]








But, please
tell me..tell me your past. Siapa yang rela nungguin


pujaan hati di
bus stop di tengah hujan deras, walau bisnya sudah


lewat? Siapa yang rela
nabung uang jajan
berbulan-bulan demi


membelikan kado buat
pacarnya? Siapa yang rela jemput naik turun


bis-mikrolet untuk
seseorang? Siapa yang rela
bikinin semua PR dan


nyatetin ringkasan
pelajaran demi pacarnya? Siapa yang
rela menunggu


bertahun-tahun walau yang
dicintai jauh di negeri seberang? Jawabnya:


Anak ABG.








Then tell me now. Siapa yang berantem gara-gara
suami kesal menunggu


istri yang shopping kelamaan? Siapa yang bertengkar
gara-gara perbedaan


definisi
"Saving"? Yang satu
berpendapat yang namanya
saving,


yaitu uang yang
disimpan di bawah kasur, yang
satu berpendapat


saving itu seperti yang
diumumkan shopping mall, shopping dan
save 50%


karena ada sale. Siapa
yang bertengkar soal pembagian
tugas rumah


tangga, soal siapa yang ngambil raport anak, dll?
Jawabnya: Orang


dewasa.








Tiba-tiba saya merasa seperti Peter Pan - yang tidak
ingin kehilangan


masa kanak-kanaknya di
dunia antah berantah, negeri di mana orang


tidak akan menjadi dewasa.
[Oh, come on Henry! You've grown up now?


Don't think like kids!]








Saya juga jadi teringat akan kisah cinta yang
lain. Saya teringat masa


ABG juga dengan
cinta yang membara untuk Tuhan.
Ribuan orang


berkumpul dalam
sebuah retreat pelajar se-Jawa Barat.
Ribuan ABG


mendedikasikan hidup bagi
Kristus, bersiap pergi
sekalipun harus


diutus ke Afrika
sekalipun, rela menyerahkan segala-galanya bagi Dia.








Siapa yang
dengan sukacita lembur
malam-malam untuk mendekor gereja


buat perayaan Natal?
Siapa yang tetap
rajin ke gereja,
walau


jelas-jelas
pendetanya tidak pernah
menyapanya atau bahkan


mengenalnya? Siapa yang
tetap bertahan dalam
pelayanan walaupun


setiap kali ke gereja
dimarahi habis-habisan oleh orang
tua? Siapa


yang tiap malam-pagi
menghafal ayat Alkitab dengan semangat?
Siapa


yang menyisihkan 50% uang
jajannya untuk penginjilan? Jawabnya: Anak


ABG.








Siapa yang
bertengkar dalam rapat majelis gara-gara soal sebuah


generator diesel? Siapa
yang tidak mau
lagi ke gereja,
karena


pendetanya lupa
tersenyum dalam satu
kebaktian? Siapa yang malas ke


gereja karena hujan
gerimis? Siapa yang hitung-hitungan
dengan Tuhan


tentang uang, waktu, dll?
Siapa yang menyisihkan 0,5% gajinya
untuk


penginjilan? Jawabnya:
Orang dewasa.








[Oh come
on ! Lain, dong..anak ABG belum mengenal realitas hidup.


Orang dewasa dituntut
untuk berpikir logis,
rasional, dan


bertanggung jawab? Mencari
uang, misalnya adalah tanggung jawab orang


dewasa?]








Well, may
be it's true.
I don't have an exact answer.
Saya cuma


punya secercah harap.
Beberapa saat yang lalu, saya
berjumpa dengan


Ed Silvoso yang membagikan
pengalamannya. Beliau adalah pelopor


kebangunan rohani di
Argentina yang bukan hanya mengguncangkan gereja,


tetapi bahkan komunitas
dan seluruh negerinya. Dia adalah
pahlawan


Allah yang membawa
transformasi sosial, politik, rohani,
emosi bagi


seluruh negeri Argentina.
Namun yang dia bagikan saat
itu adalah


tentang komitmennya untuk
membuatkan sarapan pagi bagi istrinya setiap


pagi. Setiap pagi? Ya,
setiap pagi.








Huh..!?








Sound like cinta ABG?
Well, but it's true. Mungkin memang seharusnya


pijar-pijar cinta ABG
tidak pernah mati, walaupun kita menjadi dewasa.


Kita menjadi dewasa dalam
pemikiran, menjadi bijaksana dalam


pertimbangan, tapi mengapa
mesti kehilangan passion-nya anak ABG?


Bayangkan jikalau
pijar-pijar itu tetap membara. Jika passion itu


mewarnai hidup kita, dalam
pernikahan, dalam hubungan kita dengan Bapa


dan dengan sesama. Ya,
seharusnya cinta tak pernah menyerah. Usia,


tuntutan kerja, dunia
orang dewasa tidak perlu memadamkan cinta. Cinta


tak pernah menyerah.
Biarkan cinta kita tetap membara bagi Kristus,


walau di tengah tuntutan
tanggung jawab sebagai orang dewasa. Biarkan


cinta kita tetap membara
bagi kekasih kita, walau tangan dan wajahnya


sudah keriput dan tidak
lagi seperti saat kita pertama "deg-deg-an".


Biarkan pijar-pijar itu
tetap hidup?.
avatar
Admin
Admin
Admin

Male
Number of posts : 577
Age : 30
Location : In My ROomZZ
Registration date : 2007-10-28

Character sheet
games:

View user profile http://fk-unsyiah.forumotion.com

Back to top Go down

Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum